Wednesday, May 9, 2012

I Hate Lose



Hai bloggers!! I come back here, to share some thing. Like previous writting, i write base on something happen around me.

So, i got inspire to write when i was on public transportation. I didnt meant eavesdrop someone’s conversation  who beside me. I can hear because she spoke loudly enough. She was on the phone. There i know that she failed in job test. From long conversation, i got a line. Important, meaningful, “I hate lose”
Well, lets dicuss about  ‘hate lose’. Some one who has character like that, maybe we can say that they have high fighting spirit to get what they want. Do effort as hard and as good as possible. Because they dont wanna be a loser.

I think that is very good character. Some of my friends have its. Usually, they also have high dream. They dont care what others say. If they want some thing they have to get it. With a character like that, most of them get what they want, because their high fighting sprit.

But, after saw a girl beside me, i got negative thing from its character. They hate lose. Not only them. Every one hate lose. But,  most of them who have character really hare lose, dealing the defeat was’t well. We have realize, we are not always be a winner. There is always the time we are above and below. Too hard to always be a winner, can make us forget of the restrictions on the ability. Can make us forget that there are always something or someone more than us, although we are as good as any. Too hard to always be a winner, can make us being arogant. In fact, probably the defeat of the case, are the moments, we have to bowed to thanks the victories we have ever been obtained. Too hard to be a winner, can make us being a person who are never satisfied with everything we’ve obtained previously.

 In my opinion, win and lose is needed. So that we can wise in dealing both of them. It doesnt mean we have to always lose, but we couldn’t be a winner always in any time.

Wednesday, April 4, 2012

Apakah BBM Perlu Naik?


Setelah lama tidak menulis di ariefbicara.blogspot.com, kemarin sore saat perjalanan saya dari Jatake menuju kawasan sekitaran Alam Sutera Tangerang via tol, inspirasi untuk menulis blog ini muncul. Ya, tepatnya saat saya terjebak hujan deras yang mengguyur Jakarta, Tangerang dan sekitarnya. Saya memilih untuk berteduh di salah satu rest area setelah turun dari angkutan umum yang saya tumpangi. Memanfaatkan atap SPBU yang ada disana.

Seiring dengan isu yang sedang panas di Indonesia saat ini tentang kenaikan BBM, dan menyaksikan kejadian langsung keadaan yang terjadi di tempat pengisian BBM, spontan saya mendapat ide yang mungkin  saja bisa sedikit memberikan

Ya, yg ingin saya soroti adalah tentang kenaikan BBM yang saat ini sedang hot dibicarakan. Apakah harga BBM perlu untuk dinaikkan atau tetap di subsidi oleh pemerintah? Siapa yang berhak atas penggunaan BBM bersubsidi?

Sebelumnya, saya ingin sedikit memaparkan rakyat Indonesia dalam sudut pandang saya. Dengan berbagai kondisi yang ada khususnya pemerintah, harus melihat hal-hal lain sebelum menaikkan harga BBM. Seperti hal tingkat perekonomian kebanyakan rakyat Indonesia. Masih banyak rakyat Indonesia yang ya... kalo tidak dikatakan miskin bolehlah dikatakan hidup yang sangat pas-pasan dalam kesehariannya. Masih banyak rakyat Indonesia yang harus selalu berhemat dalam pengeluaran kesehariannya agar tetap dapat terus menyambung hidup ke hari selanjutnya. Disisi lain, beberapa kalangan rakyat Indonesia sudah berlebih pendapatannya untuk mencukupi kebutuhan perut bahkan untuk keperluan mengikuti trend yang ada.

Pada dasarnya, saya setuju saja kalau harga bahan bakar minyak di naikkan. Tapi apakah seluruh kalangan rakyat Indonesia yang harus menanggungnya? Saya rasa tidak! Karena saya pikir masih ada solusi agar bagaimana kalau harga BBM naik, tapi perekonomian rakyat pun tidak ‘tercekik’
Larangan mobil-mobil tertentu untuk menikmati premium yang bersubsidi sudah lama keluar. Hanya saja masih sangat banyak mobil-mobil bermerk yang bandel. Tanpa rasa malu...

Bagaimana kalau kita (masyarakat dan pemerintah) memberikan suatu hukuman. Entah apa nama hukuman itu tepatnya, tapi saya sebut dengan PENGUCILAN SOSIAL. Setiap mobil pribadi dengan merk dan jenis tertentu diharuskan membeli bahan bakar tak bersubsidi sebagai bahan bakarnya. Lalu bagai mana kalau mereka tetap bandel? Tidak apa-apa.. silahkan. Hanya saja mereka harus rela mobilnya di tempeli stiker berukuran besar (100cmx50cm mungkin ya), yang lebih kurang seperti ini: 

Itu harus terus tertempel sampai pengisian bahan bakar selanjutnya yang tidak  bersubsidi. Mungkin perlu dicarikan bahan yang mampu menempel secara permanen sekitar satu minggu atau lama waktu rata-rata sebuah kendaraan mengisi bahan bakarnya. Tujuan penempelan stiker ini adalah memaksa mereka menggunakan BBM tak bersubsidi atau beralih pada kendaraan umum.

Selanjutnya, siapa yang diperbolehkan menikamti bahan bakar bersubsidi? Ya, transportasi umum, kendaraan roda dua, kendaraan pribadi roda empat dengan klasifikasi bukan kendaraan mewah,kendaraan angkutan barang. Angkutan barang termasuk didalamnya agar bahan sembako atau kebutuhan lainnya tidak ikut naik secara drastis. Seiring waktu berjalan, secara bertahap kendaraan pribadi roda empat dan roda dua akan dikenakan juga larangan untuk tidak menikmati bahan bakar bersubsidi. Tujuan utama tentunya menekan sekuat mungkin agar yang menikmati bahan bakar bersubsidi makin sedikit. Tujuan keduanya untuk mengurangi kemacetan banyak terjadi di Indonesia khususnya Jakarta. 

Dalam waktu yang bersamaan, pemerintah didukung dengan masyarakat harus membenahi fasilitas dan menajemen transportasi umum menyeluruh di Indonesia. Bukan hanya kendaraan umum yang memadai, tapi juga yang layak, nyaman, aman dan harga terjangkau.
Dengan cara seperti ini, diharapkan tidak hanya satu masalah yang terselesaikan, tapi juga dua tiga atau mungkin lebih.

Ini mungkin bukan solusi terbaik yang ada. Hanya saja, saya mencoba menyampaikan ide-ide yang mungkin diterapkan. Menolak kenaikan BBM tidak dengan berteriak, membuat kemacetan dijalan, bahkan berbuat anarkis yang bisa merugikan banyak pihak juga. Tapi saya salah seorang warga negara yang menolak kenaikannya dengan memberikan solusi-solusi. Karena saya peduli dan ingin ikut berkontribusi atas pembenahan negara saya

Monday, November 21, 2011

Saya Tidak Pernah Punya Niat Untuk Menjadi Sorang Pengamen

"Bapak Ibu, mohon maaf kalau seandainya selalu bertemu pengamen, pengemis, anak jalanan dimana-mana dikota ini. Saya sendiri tidak pernah punya niat untuk menjadi seorang pengamen. Dari kampung, saya membawa ijazah ke kota ini, tapi ternyata hidup di kota besar, ijazah tidak dipakai. Yang dipakai adalah uang. Dengan uang sekian, si A bisa melamar kerja di perusahaan Anu"


Kutipan diatasa adalah ucapan seorang pengamen yg saya dengar saat berada diatas bus Kampung Rambutan - Bala Raja. Sedih rasanya harus mendengar kata-kata itu. Benarkah semua yg berbicara uang? Lalu untuk apa selembar ijazah bukti seseorang berpendidikan? Lalu untuk apa digembar-gemborkan anggaran pendidikan dinaikkan kalau pada ujung nya adalah uang yang berbicara?

Ini bukan tentang berbicara kenapa dia pergi ke kota besar. Tapi masalah tentang Pendidikan VS Uang. Tentang keadilan atas orang-orang yang memiliki keterbatasan dana, tapi masih punya daya juang yang kuat untuk terus mencapai pendidikan dengan impian akan menjadi orang. Ketimbang orang-orang yang memliki kelebihan uang, tapi tak mempedulikan pendidikannya

Lalu apa selanjutnya terjadi dengan masyarakat yang beranggotakan 200 juta penduduk ini? Bisakah pendidikan lebih dihargai dari pada orang-orang yang mengandalkan uangnya?

Sunday, October 2, 2011

Habitat Hewan VS Kelapa Sawit

Tulisan ini saya tulis setelah membaca berita yang diterbitkan melalui yahoo.com, yang berjudul "Orangutan Bukan Musuh Kelapa Sawit" Dalam tulisan tersebut dikatakan, banyak dari orang utan yang dibunuh karena dianggap sebagai hama kelapa sawit. "Setidaknya sejak 10 tahun terakhir, 12 ribu orang utan mati terbunuh oleh manusia diseluruh wilayah indonesia" dan penyebab utama pembunuhan tersebut adalah karena diduga sebagai hama kelapa sawit.

Hal yang sungguh menyedihkan. Salah satu kekayaan alam Indonesia yang saya fikir seharusnya menjadikan  kebanggaan kita malah dibunuh. Apa iya mereka menjadi hama bagi tanaman kelapa sawit yang katanya menjadi pertumbuhan ekonomi saat ini? Kalau pun iya, haruskah jalan satu-satunya dibunuh?
Pertanyaannya, saat pembakaran hutan yang dilakukan untuk membuka atau perluasan lahan tanam kelapa sawit, tidakkah berfikir bahwa secara langsung telah merusak habitat mereka?? Lalu kemana mereka harus pindah? Dimana tempat mereka harus berlindung dari sengatan matahari dan derasnya hujan? Dimana tempat mereka mencari makan?
Kalau bicara jahat-jahatnya, anggaplah kalau memang mereka (orangutan) memang hama bagi tanaman kelapa sawit. Adil donk? Karena habitat mereka telah "digusur", dan pembalasannya mereka merusak tanaman kelapa sawit. adil?!
Tapi bukan itu, yang saya fikir ada jalan untuk memecahkan masalah ini tanpa mengorbankan siapa pun. Ya, boleh dibilang solusi BASI, tapi saya yakin efektif dan akan sangat berpengaruh dampaknya bila semua pihak terkait benar-benar komit untuk melaksakannya. 
1. Pembatasan pembukaan lahan untuk penanaman kelapa sawit oleh pemerintah.
2. Pengawasan ketat dan dilakukan secara berkelanjutan oleh pemerintah terhadap lahan kelapa sawit      agar tidak terjadinya ekspansi secara diam-diam oleh pemilik lahan kelapa sawit
3. Para pengusaha lahan sawit mempunyai legalitas yang sah untuk membuka usahanya, dan berkomitmen untuk tetap patuh pada aturan yang berlaku, menjaga, merawat, dan ikut melestarikan lingkungan.
Dan kunci keberhasilannya adalah pada komitmen untuk menjalankan dan mematuhi segala peraturan yang ada.
Orangutan baru hanya lah satu jenis hewan yang menjadi korbannya, dan yang disorot dalam berita tersebut. Lalu bagaimana dengan keadaan hewan-hewan yang lain? Bagaimana dengan gajah hutan, harimau, dan banyak lagi hewan yg lainnya? Siapa yang bertanggung jawab? Siapa yang akan melindungi mereka? Dimana lagi tempat berteduh mereka, tempat mencari makan. Jangan sampai keserakahan merusak alam yang indah ini.

Saya bukan seorang aktivis lingkungan yang fanatik, tapi saya cukup peduli dengan keadaan lingkungan bumi, tempat saya tinggal ini saya rasa semakin panas dan semakin tidak nyaman untuk ditempati. Dan perubahan yang semakin kearah yang baik akan terwujud jika kita semua saling bahu membahu untuk mewujudkannya.

Thursday, July 7, 2011

Tentang Cinta

Blog kali ini, saya ingin berbicara tentang cinta. Ya, mungkin beberapa filosofinya didapat dari pengalaman hidup sendiri *berat cuy pakai kata-kata filosofi segala.
Cinta adalah suatu kata yang bila diucapkan, maka yang terbayang adalah sesuatu yg indah. Karena memang cinta diciptakan karena keindahan. Tapi bagaimana seseorang bisa menyikapi dan menindak lanjuti cinta itu sendiri, itu lah yang sering membuat bentuk cinta itu berubah-ubah. Bisa menjadi semakin indah, atau tragisnya malah menjadi sebuah kebencian yang mendalam.
Hari ini cinta, mungkin besok benci, atau sebaliknya. Sekarang benci besok cinta. Sesuatu yang begitu ajaib, dan itulah kekuasaan Sang Pembolak-balik hati.
"Hati-hati bermain cinta" saya setuju dengan kata-kata ini. Karena salah sedikit saja, akan begitu fatal akibatnya. Karena cinta memang bukan masalah logika matematik, buka ilmu statistik, bukan kajian sosial, tapi masalah hati yang begitu sensitif, untuk siapa pun.

Dalam blog ini, saya ingin menyampaikan ungkapan maaf yang teramat dalam karena telah menyakiti hati seorang wanita yang begitu lembut dan sangat penyayang, penuh kesabaran. Penyesalan yang tidak terhingga. Kasih, kamu tau itu bukan sesuatu yang ingin ku lakukan. Semua hanya karena emosi ku. Ku sangat mengharapkan kita dapat seperti dulu lagi. Dengan penjelasan ku yang panjang lebar kepada mu, ku harap kamu bisa membuka hati mu untuk ku

Sungguh amat mencintai mu....

Wednesday, March 16, 2011

Buang Sampah Pada Tempatnya

Kalimat ini sangat sering kita jumpai. "Dilarang Membuang Sampah di Area Ini" atau "Terima Kasih Untuk Tidak Membuang Sampah di Area Ini" Hal yg menarik untuk saya pribadi, dan mungkin benar-benar saya sadari beberapa saat yg lalu saat kembali melihat tulisan itu di sebuah tempat. Tulisan tersebut dipampang di tempat dimana biasanya sampah dibuang oleh kebanyakan orang. Walau kadang tidak ada wadah penampungan sampah, tapi secara tidak langsung karena kebiasaan masyrakat setempat membuang sampah ditempat tersebut, jadilah itu tempat pembuangan sampah tetap. Dan setelah sekian lama itu terjadi, baru lah kata-kata "Dilarang Membuang Sampah di Area Ini" Kenapa yah? dan kata-kata itu sama sekali tidak dihiraukan. Buktinya, tetap saja sampah-sampah terus dibuang ketempat itu.
Dalam blog "Silahkan Bicara"  saya ini, saya mencoba selalu mengajukan solusi untuk setiap masalah yang saya sodorkan. Begitu juga kali ini. Saya mencoba mengajukan sebuah solusi, yang kira-kira bisa secepat mungkin untuk direalisasikan berharap pemecahan masalah secepatnya. Tentu saja  setiap solusi tidak lah sempurna. Karena saya pun adalah manusia biasa. Jadi juga membutuhkan pendapat tambahan lain yg mendukung.

Untuk masalah ini, saya berfikir, bagaimana kalau dari pemerintah pusat untuk untuk umumnya, pemerintah daerah khususnya untuk mewajibkan warganya untuk membuat tong sampah di depan halamannya. Disini saya tekankan setiap pemilik rumahlah yg membuat atau menyediakan tempat sampah itu sendiri. Kenapa? Agar jangan sampai ada statement yg mengatakan penyediaan tong sampah itu kan besar. Tapi kalau setiap rumah yg bertanggung jawab menyediakan?jadi ringan donk. Untuk bangunan seperti perkantoran atau gedung yg berada di pinggiran jalan yg banyak dilalui orang, wajib  menyediakan tong sampah nya lebih dari satu. Jumlah pastinya disesuaikan dengan kebutuhan nanti. Dengan demikian, bisa dibayangkan, akan cukup memadainya tong sampah yang ada. Penyediaan tong sampah disetiap rumah atau perkantoran ini juga punya sasaran pada pejalan kaki juga. Karena tong sampah tadi diletakkan dekat jalur pejalan kaki. Tentunya diatur agar juga tidak merusak pemandangan, dan jalur pejalan kaki.Karena saya pribadi merasakan, tidak ingin membuang sampah sembarangan saat berjalan. Tapi karena kurang fasilitas kurang memadai?harus memasukkan sampah itu dulu ke dalam tas. tapi kalau sampahnya tidak memungkinkan dimasukkan terlebih dahulu ke tas?gimana?

Nah, sekarang timbul masalah. Kalau sudah tersedia tong sampah, dan sudah dibuang ketempatnya. Bagaimana pendistribusiannya ke TPA? Saya yakin umumnya hampir setiap daerah sudah mempunyai truk pengangkut sampah, walau belum tentu memadai. Itu yang harus diberdayakan secara maksimal terlebih dahulu. Selanjutnya, saya sering melihat setiap pagi atau sore atau juga kadang malam ada petugas yang menyapu lingkungan khususnya dijalan raya. Sebagian dari mereka dialih fungsikan ikut menjadi petugas yg mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah, gedung ke gedung. Tinggal sarana transportasinya. Ini yang dibutuhkan dukungan dari pemerintah. Mungkin tidak perlu langsung truk yang harganya cukup mahal. Cukup dengan bak yang berukuran sedang saja dulu yg bisa ditarik dengan motor. Sekarang sudah banyak beredar kan motor model seperti itu buatan China. Harganya pun relatif murah.

Setelah dukungan dari pemerintah, sekarang yang tidak kalah penting nya adalah dukungan dari masyarakatnya sendiri. Ayo!! Kita tidak akan bisa lebih baik kalau terus mengikuti kebiasaan lama, yang kadang jelas-jelas tidak baik. Kita bersihkan lingkungan kita sendiri. Jangan lagi buang sampah sembarangan.

Mungkin kita belum bisa sebaik masayarakat luar, yang sampai memisahkan sampah organik dan non organik dan segala macam sampahnya. Karena pengetahuan masyarakat secara umum pun belum begitu mengerti dengan baik untuk itu. Tapi tidak apa menurut saya untuk permulaan ini. Sambil berjalan kita bisa berikan penyuluhan secara berlanjut dan terus berbenah.

Hal yang saya rasa sulit adalah hukuman bagi yg melanggar. yaitu membuang sampah disembarang tempat. Karena setahu saya belum ada petugas patroli yg bisa mengawasinya. Kalaupun dibentuk, tentu membutuhkan dana yg cukup besar. Belum lagi apa sanksi yg akan diberikan. Untuk itu sejauh ini saya hanya bisa menghimbau. Mari kita sama-sama menciptakan lingkungan kita yang lebih baik, lebih bersih.

Sunday, March 6, 2011

Solusi Angkot



Kali ini saya membahas tentang transportasi indonesia. Saya ingin transportasi indonesia ini bisa baik, teratur, nyaman. Dasar pendidikan saya adalah Teknik Mesin. Jadi saya menulis blog ini berdasarkan pengalaman, pengamatan, dan pemikiran pribadi saya sendiri.

Saya ingin spesifik lagi pembahasannya untuk masalah transportasi kali ini yaitu masalah angkot. Beberapa daerah di Indonesia yang pernah saya datangi dan saya tempati, masalahnya saya rasa sama pada angkot ini, yaitu ngetem seenak dimana mereka mau, berhenti sembarangan, berebut penumpang, semua sebebas mereka. Seolah-olah tidak ada yang mengatur, atau memang tidak ada sama sekali yang mengatur? Akibat yang sangat nyata kita lihat adalah MACET ada dimana-mana.

Saya ingin menyuarakan pendapat saya ini, dan ide saya ini bukan lah hal yang baru karena pada dasarnya ide ini sudah diterapkan. Saya yakin kalau dengan solusi angkot diganti dengan transportasi lain seperti bus, maka akan banyak penentang nya terutama dari pihak supir angkot itu sendiri. Karena terancamnya ketersediaan lapangan kerja mereka. Jadi transportasi angkot harus dipertahankan.

Kenapa harus angkot?
Coba perhatikan saja transportasi umum yang mendominasi di Indonesia ini secara umum. Angkot banyak menjadi kendaraan umum dalam kota. Kenapa tidak kereta api yang muatannya bisa banyak. Bagus memang, tapi menurut pandangan saya masalah ini sudah sagat mendesak. Kalau harus menunggu kereta api hingga pelayanannya memadai sepertinya terlalu lama. Kenapa tidak bus kota? Okay, bisa diterima. Antara angkot dan bis kota bisa dipadukan. Tapi tidak disetiap daerah memiliki bus kota.

Lalu apa?
Tidak perlu digantikan angkot-angkot yang ada. Tapi hanya lebih ditertibkan saja agar dapat setidaknya mengurangi kemacetan yang ada di Indonesia.

Seperti apa donk Mekanisme Penertibannya?
Pertama harus ditentukan berapa jumlah angkot yang akan beroperasi pada jurusan tertentu. Untuk jumlah, berapa unit  yang harus beroperasi. Karena perlu dibatasi untuk menghindari terjadinya macet.
Selanjutnya harus ditentukan setiap berapa kali per angkot berangkat dari titik keberangkatan. Bukannya malah angkot yang berangkat disuatu titik lebih dari satu atau lebih. Yang ada penumpangnya tersebar pada banyak angkot. Setiap angkot hanya berisikan dua sampai tiga penumpang saja. Akhirnya tidak ada yang berangkat dan pada ujungnya banyak angkot berhenti disuatu tempat dan terjadilah macet.
Bahkan perlu ditentukan berapa lama angkot ini harus sampai hingga tujuan akhirnya. Agar para pengguna angkot pun tau pasti masalah waktu. Kapan ia harus berangkat dan tau kapan ia akan sampai pada tujuannya. Dan yang tak kalah pentingnya, dititik titik mana saja angkot ini diperbolehkan untuk berhenti. Angkot juga tidak diperbolehkan untuk menaikkan penumpang disembarang tempat. Tentu saja ditempat yang sudah ditentukan tadi.

Lho, Apa Pengguna Tidak Protes Kalau Angkot Berhenti di Tempat-tempat Tertentu Saja?
Kalau ada pengguna yang berfikir seperti itu, seharusnya juga berfikir donk. Kalau ingin berhenti ditempat yg dia mau namanya terlalu egois. Lebih milih sedikit berjalan kaki atau lama diangkot karena terus-terusan kejebak macet. Tinggal pengatur atau dalam hal ini pemerintah yang mengatur dimana titik-titik yang perlu dijadikan tempat pemberhentian angkot. Sangat mirip dengan halte. Bedanya yang berhenti adalah angkot. Menurut saya, halte beberapa sudah tersedia. Tapi jumlahnya tidak memadai dan tidak dimanfaatkan. Nyatanya, bus kota saja juga bebas menurunkan penumpangnya dimana pun. Jadi perlu diperketat lagi aturannya.

Untuk Membangun Halte-Halte Baru Butuh Dana Lho...
Lah?saya yakin setiap tahun pemerintah memberikan budget untuk masalah transportasi. Apa sedikit pun tidak bisa dialokasikan untuk pembangunan halte. Cukup halte sederhana yang menandakan itu tempat pemberhentian dan naik kendaraan umum. Tidak bisa juga kah?

Bagaimana kriteria untuk angkot yang layak beroperasi?
Untuk masalah kulitas angkot yang digunakan untuk tahap awal ga perlu muluk-muluk lah. Asal tidak membahayakan keselamatan penumpang saja dulu. Tahap kelayakan yang perlu diperhatikan paling utama saya pikir adalah pada kualitas supir angkot itu sendiri. Karena sangat-sangat banyak saya temui supir angkot yang mengemudi ugal-ugalan.
Syarat layak pertama adalah tentu mereka harus memiliki SIM tentunya. Dari pemerintah perlu mengadakan pendataan seorang supir angkot mengendari angkot yang mana dan jurusan kemana.
Kenapa harus?
Iya donk. Untuk mempermudah nantinya. Seperti kalau ada suatu kecelakaan atau pelanggaran atauran mudah untuk menyelidikinya. Atau juga untuk menghindari supir angkot jadi-jadian yang belum tentu memenuhi syarat kelayakan mengemudi angkot atau tidak.
Tahap selanjutnya bila supir angkotnya sudah tertib, baru masalah kenyamanan yang diperhatikan.

Siapa yang mengawasi jalannya tertib Angkot itu?
Tentu dinas perhubungan atau yang berkaitan. Diperbantukan oleh petugas polisi lalu lintas. Petugas yang berwenang harus tegas dan jangan lembek untuk memberi sanksinya. Dan yang paling penting, jangan tergiur untuk dimasukkan uang kedalam sakunya. 

Apa sanksi kepada angkot yang melanggar aturan yang sudah ditetapkan?
Spesifiknya tentu saja dapat diatur oleh pemerintah terkait. Mulai dari sanksi denda yang setimpal, hingga pencabutan izin operasinya.