Monday, April 1, 2013

Tragedi Kelam Dibalik Perayaan April Mop

1.  Ternyata masih banyak dari kita yang belum tau sejarah awal dari perayaan April Mop #antiAprilMop

2. Nyatanya, masih banyak dari kita (khususnya umat Islam) ikut melakukan 'ritual' April Mop, dan menganggapnya benar-benar lelucon #antiAprilMop

3. Padahal, tragedi tragsi yg memilukan awal dari lahirnya April Mop #antiAprilMop

4. Pembantaian ribuan umat Islam oleh kaum kafir yang terjadi di Spanyol pada tahun 1487M / 892H #antiAprilMop

5. Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol mulai tumbuh menjadi negeri yang makmur #antiAprilMop

6. Tidak hanya di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Prancis #antiAprilMop

7. Karena sikap pemimpin Islam yang baik dan rendah hati, masyarakat Spanyol mulai menerima dan memluk Islam dengan Ikhlas dan tulus #antiAprilMop

8. Mereka mempraktekkan ajaran Islam kedalam kehidupan sehari-hari #antiAprilMop

9. Tidak hanya membaca, tapi juga hidup berdasarkan Al - Quran #antiAprilMop

10. Keadaan yang tentram dan damai berlangsung lebih kurang selama 6 abad lamanya #antiAprilMop

11. Kaum kafir yang disekitar Spanyol terus mencoba menjatuhkan Islam #antiAprilMop

12. Mereka mengirimkan minuman keras secara diam2. Mempengaruhi kaum muda untuk bernyanyi ketimbang membaca Al-Quran #antiAprilMop

13. Mengirim ulama-ulama palsu demi menciptakan perpecahan atar umat Islam #antiAprilMop

14. Sayangnya usaha mereka membuahkan hasil. Spanyol dapat direbut oleh kaum kafir #antiAprilMop

15. Pasukan kafir menyerang dengan membabi buta. Penduduk sipil, orang tua, anak kecil dan wanita dibantai #antiAprilMop

16. Grenada adalah daerah terakhir yang mereka taklukkan. Umat Islam yang tersisa bersembunyi didalam rumah-rumah mereka #antiAprilMop

17. Kaum kafir mengeluarkan pengemuman, bahwa kaum muslim yang tersisa dapat meninggalkan Spanyol dengan aman menggunakan kapal yg telah disiapkan #antiAprilMop

18. Walau menaruh kecurigaan atas kaum kafir, namun setelah diperlihatkan kapal yang ada didermaga, mereka percaya #antiAprilMop

19. Keesokan harinya bertepatan pada tanggal 1 April, ribuan umat Islam berkumpul didermaga. Beberapa tetap memilih tinggal #antiAprilMop

20. Kaum kafir dengan cepat menggeledah dan membakar rumah-rumah kaum muslim #antiAprilMop

21. Termasuk kapal yang akan membawa mereka keluar Spanyol, juga ikut dibakar #antiAprilMop

22. Dengan satu teriakkan pemimpin kafir, tentara kafir mulai membantai umat muslim yang tersisa tanpa ampun #antiAprilMop

23. Darah ada dimana-mana, laut yang tadinya biru, berubah menjadi merah kehitam-hitaman #antiAprilMop

24. Kaum kafir menganggap ini adalah  sebuah lelucon #antiAprilMop

25. Inilah yang kemudian, dunia Kristen mulai di peringati sebagai hari boleh berbohong (The April's Fool Day) #antiAprilMop

26. Bagi umat kristiani peringatan April Mop adalah hari kemenangan atas dibunuhnya umat muslim lewat cara penipuan #antiAprilMop

27. Lalu apa pantas, kita yang umat muslim ikut merayakan tradisi ini?? #antiAprilMop 

Wednesday, February 6, 2013

Masa Duitnya Dibuang Ke Tong Sampah?

Hai bloggers... Yuk kita bicara lagi :)

Kali ini bicara tentang makan.. wuiiii.... laper donk!! Hihi.,. bukan. Lebih tepat nya kita ga bicara soal makanannya, tapi apa yang kita lakuin terhadap makanan kita tersebut.Maksudnya apa sih?

Gini gini... saya coba sampaikan dengan ilustrasi yang pernah beberapa kali alami.
Sempat beberapa kali saya bareng teman-teman, atau pacar :) [senyum malu] jalan ke mall atau kemana lah itu. Terus selanjutnya kita mampir buat isi perut. Awalnya sih biasa-biasa aja. Semua berjalan normal apa adanya *alah...
Hampir selesai makan, terkadang ada yg celetuk "Buset rif, lu laper atau doyan? Piringnya ampe bersih gitu!" nyengir tanpa rasa bersalah.
Saya sih ga marah, tapi saya biasanya jawab "Lah?emangnya kenapa. Ini kan buat dimakan, bukan buat dipajang. Apalagi disisain. Belinya toh pakai uangkan? Kalau makan nyisa itu sama aja artinya lu buang duit ke tong sampah!! Udah kaya lu?" sambil nyengir seneng :D  

Well, mungkin ada yg berpendapat, alah arief lebay bgt. Segitu doank kok.... Tapi sorry, mungkin buat yg lain sepele. Tapi buat saya, itu sensitif banget. Ngelihat yg kayak gitu bisa buat saya kesel, bahkan sampai mood berubah jadi jelek. I dont know why, tapi itu sering terjadi.

Pertama, bisa dikasih makan itu anugerah dari Sang Maha Pemberi Rezeki kan? Menghabiskan makanan itu tanpa sisa, termasuk salah satu ungkapan syukur kita atas nikmatnya bukan?!! Mau besok-besok kita ga dikasih makan lagi oleh NYA?

Kedua, apapun itu, kita beli makan pakai uangkan? Gini, kita punya sejumlah uang. Terus kita laper. Artinya kita mesti convert uang ke bentuk makanan. Terus kita makan nyisa, artinya harus dibuang. Ga ada lho yg mau dikasih makanan sisa. Kalo ada yg jawab "Ada kok!!" Sekarang saya balik tanya, Anda mau dikasih makanan sisa?" :D
Nah artinya, makanan sisa tadi dibuangkan? Masuknya ke tong sampah. Coba, makanan tadi di convert lagi kedalam bentuk uang. Berapa uang yg kita buang? Udah kaya? Kalau pun udah kaya, sombong amit? :)

Nyem...sorry, kalo yg makan bareng saya, terus nyisa. Saya rada bawel buat suruh habisin, bahkan ampe dipelototin.hee... Saya pribadi lebih rela dibilang rakus, dari pada harus nyisain makanan. Gampang bgt orang-orang bilang kenyang sebagai alasan ga mau lagi habisin tu makanan. Atau bisa juga kan, minta dikurangin porsinya, jadi ga perlu nyisain makanan.

"Alah, sok iye lu rif....". "Emang ga iye iye bgt, tapi setidaknya saya coba pandai bersyukur atas rezeki NYA :)"

Yuk jangan buang lagi uang ke tong sampah :)

Sunday, February 3, 2013

Satu Menjelma Sejuta, Mengalahkan Dua Tiga Lainnya

Well, blogger... kalau tidak salah, ini kali ke duanya saya menulis tentang cinta di halaman 'Silahkan Bicara'. Selebihnya ya seputaran sosial dan lingkungan. Kenapa bicarakan tentang cinta?entahlah, ga ada alasan khusus. tiba-tiba tadi saat kerja terlintas begitu saja, dan sepulangnya saya coba tuliskan.

Nah, bicara tentang rasa yang baru muncul, saat kita dekat dengan seseorang. Sering ga sih, atau setidaknya pernah kali ya kita ngerasain saat kita baru-baru dekat dengan sesorang, lawan jenis tentunya. Kita merasakan sesuatu rasa yg berbeda. Rasa... lebih nyaman saat berada dekat dengannya. Rata-rata, perasaan nyaman itu benih benih rasa yang akan muncul di hati. Bila berlanjut, benih cinta pun akan bermekaran merajai hati. #ihiiy  :)

Segitu merajainya, keputusan gegabah muncul. Rasa nyaman yg muncul, satu menjelma menjadi sejuta alasan untuk memutuskan dialah cinta dan jodoh ku. Dua, tiga alasan lainnya untuk menahan hati akan rasa yang baru saja muncul, terkalahkan.

Lho, kenapa mesti ditahan-tahan?

Pertanyaannya saya jawab dengan satu pertanyaan.
Apakah rasa nyaman yang kita rasakan saat bersamanya saat ini dapat bertahan hingga esok, lusa, sebulan, setahun, bahakan hingga usia beranjak senja nanti, atau lenyap setelah mengenalnya utuh satu paket (baik dan buruknya i mean) ?

Selamat menata hati blogger :D

Tuesday, October 16, 2012

Guru Bukannya Mencetak Murid Pencontek!!



Saat itu adalah hari pertama Ujian Nasional (UN) dan mata pelajaran yang diujiankan, Matematika. Semua peserta ujian masuk keruang ujian masing-masing mempersiapkan alat tulis. Tidak berapa lama kemudian, dua orang pengawas memasuki ruangan kelas saya. Tapi, peserta ujian diruangan kelas terkejut karena satu dari dua pengawas tersebut masuk sambil marah-marah.

“Guru kalian itu ga bisa diajak kerja sama” Kata seorang pengawas tadi.

Suasana kelas yang masih terkejut tetap terdiam

“Siswa saya, yang dia awasi ujiannnya, dicatat namanya karena menyontek. Kita sama ngerti sajalah, standar nilai sekarang itu naik, semuanyakan juga mau lulus. Kok malah diketatin??! Awas ya, kalian jangan macam-macam. Yang ketahuan nyaontek langsung saya catat namanya!!”

Setelah itu, para peserta mengerjakan soal ujian dengan suasana yang sangat tegang dari awal hingga akhir. Termasuk saya yang ada diruangan tersebut. Bagaimana tidak, mental peserta yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba dimarahi langsung down dengan sikap pengawas tersebut.

Itu adalah pengalaman pribadi saya saat mengikuti Ujian Nasional SMA tahun 2008.

Para pengawasan ujian adalah guru-guru dari sekolah lain yang mata pelajarannya tidak diujiankan. Dan ya, saya harus jujur, saat mengikuti ujian pada mata pelajaran lainpun, memang sangat terasa bahwa banyak pengawas yang melonggarkan pengawasannya. Seolah-olah telah ada ‘persetujuan dibelakang layar’ antar pengawas ujian kalau mereka akan melonggarkan pengawasan ujian. Alhasil, peserta cukup leluasa melakukakan aksi menconteknya. Hanya ada teguran-teguran sederhana kepada siswa yang ‘kelakuannya’ terlalu mencolok.

Lalu apakah goal dari sebuah ujian hanya lulus dan angka yang tertera diatas kertas semata? Dalam pandangan saya, saat ini banyak dari kita lebih mementingkan nilai dari pada pemahaman dari suatu materi pembelajaran. Apa bila seorang murid mendapatkan nilai tinggi maka dia pintar, lalu bila seorang murid lainnya mendapatkan nilai rendah maka dia bodoh/pemalas. Bukan berarti nilai tidak penting, tapi proses pembelajaran, daya juang seorang murid untuk mencapai tingkat mengerti materi pelajaran jauh lebih penting. Bukan hanya sekedar nilai diatas kertas. Siapa yang tahu nilai tersebut didapatkan dengan cara yang benar atau tidak. Apa gunanya nilai tinggi, namun sebenarnya murid tidak paham materi yang dipelajarinya. Hasilnya akan berdampak pada tidak adanya aplikasi nyata dari apa yang telah dipelajarinya, dan akan mempengaruhi tingkat percaya dirinya untuk melakukan sesuatu.

Hal ini juga memperbesar jarak antar siswa yang pinta akan semakin pintar, sedangkan siswa yang pemalas akan semakin malas karena merasa santai akibat diberi ruang untuk aktifitas mencontek.

Lalu bagaimana mungkin murid dapat mencapai tingkat mengerti dari materi pelajaran, sedangkan guru sebagai pengajar dan pendidik juga mendukung pencapaian nilai diatas kertas saja. Berdasarkan pengalaman saya, hanya sebagian kecil guru yang benar-benar mementingkan siswa mengerti akan materi pelajaran dari pada nilai diatas kertas.

Perlu dilakukan perubahan mind set secara global, bahwa bukan nilai tujuan atas pembelajaran, tapi bagaimana mencapai tingkat mengerti atas materi yang dipelajari. Hal ini bisa terwujud dengan dukungan kurikulum pembelajaran, pola didik dan mengajar yang diberikan para guru, dan kemauan siswa untuk benar-benar mau mengerti materi pelajaran.

Sistem ujian open book/open note saya pikir juga efektif untuk mengurangi aktifitas mencontek saat ujian berlangsung. Sekaligus membangun rasa percaya diri siswa akan jawabannya sendiri. Selanjutnya, bagaimana guru merancang soal untuk metoda open book/open note.












Wednesday, May 9, 2012

I Hate Lose



Hai bloggers!! I come back here, to share some thing. Like previous writting, i write base on something happen around me.

So, i got inspire to write when i was on public transportation. I didnt meant eavesdrop someone’s conversation  who beside me. I can hear because she spoke loudly enough. She was on the phone. There i know that she failed in job test. From long conversation, i got a line. Important, meaningful, “I hate lose”
Well, lets dicuss about  ‘hate lose’. Some one who has character like that, maybe we can say that they have high fighting spirit to get what they want. Do effort as hard and as good as possible. Because they dont wanna be a loser.

I think that is very good character. Some of my friends have its. Usually, they also have high dream. They dont care what others say. If they want some thing they have to get it. With a character like that, most of them get what they want, because their high fighting sprit.

But, after saw a girl beside me, i got negative thing from its character. They hate lose. Not only them. Every one hate lose. But,  most of them who have character really hare lose, dealing the defeat was’t well. We have realize, we are not always be a winner. There is always the time we are above and below. Too hard to always be a winner, can make us forget of the restrictions on the ability. Can make us forget that there are always something or someone more than us, although we are as good as any. Too hard to always be a winner, can make us being arogant. In fact, probably the defeat of the case, are the moments, we have to bowed to thanks the victories we have ever been obtained. Too hard to be a winner, can make us being a person who are never satisfied with everything we’ve obtained previously.

 In my opinion, win and lose is needed. So that we can wise in dealing both of them. It doesnt mean we have to always lose, but we couldn’t be a winner always in any time.

Wednesday, April 4, 2012

Apakah BBM Perlu Naik?


Setelah lama tidak menulis di ariefbicara.blogspot.com, kemarin sore saat perjalanan saya dari Jatake menuju kawasan sekitaran Alam Sutera Tangerang via tol, inspirasi untuk menulis blog ini muncul. Ya, tepatnya saat saya terjebak hujan deras yang mengguyur Jakarta, Tangerang dan sekitarnya. Saya memilih untuk berteduh di salah satu rest area setelah turun dari angkutan umum yang saya tumpangi. Memanfaatkan atap SPBU yang ada disana.

Seiring dengan isu yang sedang panas di Indonesia saat ini tentang kenaikan BBM, dan menyaksikan kejadian langsung keadaan yang terjadi di tempat pengisian BBM, spontan saya mendapat ide yang mungkin  saja bisa sedikit memberikan

Ya, yg ingin saya soroti adalah tentang kenaikan BBM yang saat ini sedang hot dibicarakan. Apakah harga BBM perlu untuk dinaikkan atau tetap di subsidi oleh pemerintah? Siapa yang berhak atas penggunaan BBM bersubsidi?

Sebelumnya, saya ingin sedikit memaparkan rakyat Indonesia dalam sudut pandang saya. Dengan berbagai kondisi yang ada khususnya pemerintah, harus melihat hal-hal lain sebelum menaikkan harga BBM. Seperti hal tingkat perekonomian kebanyakan rakyat Indonesia. Masih banyak rakyat Indonesia yang ya... kalo tidak dikatakan miskin bolehlah dikatakan hidup yang sangat pas-pasan dalam kesehariannya. Masih banyak rakyat Indonesia yang harus selalu berhemat dalam pengeluaran kesehariannya agar tetap dapat terus menyambung hidup ke hari selanjutnya. Disisi lain, beberapa kalangan rakyat Indonesia sudah berlebih pendapatannya untuk mencukupi kebutuhan perut bahkan untuk keperluan mengikuti trend yang ada.

Pada dasarnya, saya setuju saja kalau harga bahan bakar minyak di naikkan. Tapi apakah seluruh kalangan rakyat Indonesia yang harus menanggungnya? Saya rasa tidak! Karena saya pikir masih ada solusi agar bagaimana kalau harga BBM naik, tapi perekonomian rakyat pun tidak ‘tercekik’
Larangan mobil-mobil tertentu untuk menikmati premium yang bersubsidi sudah lama keluar. Hanya saja masih sangat banyak mobil-mobil bermerk yang bandel. Tanpa rasa malu...

Bagaimana kalau kita (masyarakat dan pemerintah) memberikan suatu hukuman. Entah apa nama hukuman itu tepatnya, tapi saya sebut dengan PENGUCILAN SOSIAL. Setiap mobil pribadi dengan merk dan jenis tertentu diharuskan membeli bahan bakar tak bersubsidi sebagai bahan bakarnya. Lalu bagai mana kalau mereka tetap bandel? Tidak apa-apa.. silahkan. Hanya saja mereka harus rela mobilnya di tempeli stiker berukuran besar (100cmx50cm mungkin ya), yang lebih kurang seperti ini: 

Itu harus terus tertempel sampai pengisian bahan bakar selanjutnya yang tidak  bersubsidi. Mungkin perlu dicarikan bahan yang mampu menempel secara permanen sekitar satu minggu atau lama waktu rata-rata sebuah kendaraan mengisi bahan bakarnya. Tujuan penempelan stiker ini adalah memaksa mereka menggunakan BBM tak bersubsidi atau beralih pada kendaraan umum.

Selanjutnya, siapa yang diperbolehkan menikamti bahan bakar bersubsidi? Ya, transportasi umum, kendaraan roda dua, kendaraan pribadi roda empat dengan klasifikasi bukan kendaraan mewah,kendaraan angkutan barang. Angkutan barang termasuk didalamnya agar bahan sembako atau kebutuhan lainnya tidak ikut naik secara drastis. Seiring waktu berjalan, secara bertahap kendaraan pribadi roda empat dan roda dua akan dikenakan juga larangan untuk tidak menikmati bahan bakar bersubsidi. Tujuan utama tentunya menekan sekuat mungkin agar yang menikmati bahan bakar bersubsidi makin sedikit. Tujuan keduanya untuk mengurangi kemacetan banyak terjadi di Indonesia khususnya Jakarta. 

Dalam waktu yang bersamaan, pemerintah didukung dengan masyarakat harus membenahi fasilitas dan menajemen transportasi umum menyeluruh di Indonesia. Bukan hanya kendaraan umum yang memadai, tapi juga yang layak, nyaman, aman dan harga terjangkau.
Dengan cara seperti ini, diharapkan tidak hanya satu masalah yang terselesaikan, tapi juga dua tiga atau mungkin lebih.

Ini mungkin bukan solusi terbaik yang ada. Hanya saja, saya mencoba menyampaikan ide-ide yang mungkin diterapkan. Menolak kenaikan BBM tidak dengan berteriak, membuat kemacetan dijalan, bahkan berbuat anarkis yang bisa merugikan banyak pihak juga. Tapi saya salah seorang warga negara yang menolak kenaikannya dengan memberikan solusi-solusi. Karena saya peduli dan ingin ikut berkontribusi atas pembenahan negara saya

Monday, November 21, 2011

Saya Tidak Pernah Punya Niat Untuk Menjadi Sorang Pengamen

"Bapak Ibu, mohon maaf kalau seandainya selalu bertemu pengamen, pengemis, anak jalanan dimana-mana dikota ini. Saya sendiri tidak pernah punya niat untuk menjadi seorang pengamen. Dari kampung, saya membawa ijazah ke kota ini, tapi ternyata hidup di kota besar, ijazah tidak dipakai. Yang dipakai adalah uang. Dengan uang sekian, si A bisa melamar kerja di perusahaan Anu"


Kutipan diatasa adalah ucapan seorang pengamen yg saya dengar saat berada diatas bus Kampung Rambutan - Bala Raja. Sedih rasanya harus mendengar kata-kata itu. Benarkah semua yg berbicara uang? Lalu untuk apa selembar ijazah bukti seseorang berpendidikan? Lalu untuk apa digembar-gemborkan anggaran pendidikan dinaikkan kalau pada ujung nya adalah uang yang berbicara?

Ini bukan tentang berbicara kenapa dia pergi ke kota besar. Tapi masalah tentang Pendidikan VS Uang. Tentang keadilan atas orang-orang yang memiliki keterbatasan dana, tapi masih punya daya juang yang kuat untuk terus mencapai pendidikan dengan impian akan menjadi orang. Ketimbang orang-orang yang memliki kelebihan uang, tapi tak mempedulikan pendidikannya

Lalu apa selanjutnya terjadi dengan masyarakat yang beranggotakan 200 juta penduduk ini? Bisakah pendidikan lebih dihargai dari pada orang-orang yang mengandalkan uangnya?